Kemiren sebenarnya adalah semacam desa adat yang terletak di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Desa adat ini dikenal sebagai rumah bagi komunitas Suku Osing (penduduk asli daerah Banyuwangi). Layaknya desa adat lainnya di Indonesia, daerah ini dijadikan sebagai cagar budaya dan dibuktikan dengan banyaknya festival, perayaan, dan upacara yang diselenggarakan di desa ini. Di antara festival-festival tersebut, terdapat Tumpeng Sewu, Ider Bumi, dan Ngopi Sepuluh Ewu. Penasaran dengan festival-festival tersebut? Mari kita lihat apa saja festival-festival tersebut.

Tumpeng Sewu Di awal bulan haji, ada "tumpeng sewu". Di awal hari, umat akan mengenakan alas merah dan hitam. Di sana, akan disiapkan "Tumpeng" – nasi kuning berbentuk kerucut dalam wadah bambu yang dikelilingi berbagai hidangan lainnya. Mereka akan berkumpul di lapangan untuk salat magrib, dan setelah salat, mereka akan menyantap tumpeng tersebut. Terakhir, mereka akan membaca surah "Yusouf" yang telah ditranskripsi di atas daun lontar kering. Tumpeng Sewu bukan sekadar ritual tradisional, tetapi telah menjelma menjadi daya tarik wisata. Terbukti dengan ratusan wisatawan yang menyaksikan tradisi ini. Selama festival, ribuan orang yang datang dari berbagai desa di sekitar Desa Kemiren berkumpul dan menikmati hidangan tumpeng. Sekadar informasi, tumpeng mengacu pada nasi kuning yang dibuat dengan mencampurkan beras dan kunyit untuk menambah warna, rasa, dan aroma. Selain tumpeng, terdapat banyak lauk lainnya, termasuk ayam, sayuran rebus, dan daging. Saat festival Tumpeng Sewu digelar, jalan menuju Desa Adat Kemiren akan ditutup total mulai pukul 17.30. Bagi yang ingin mengikuti festival ini harus rela berjalan kaki untuk mencapai desa. Menu-menu disajikan di atas jalan yang dihamparkan di atas daun pisang. Tepat setelah salat Magrib (sekitar pukul 18.00), festival dimulai. Di bawah cahaya obor, semua orang duduk dengan tertib. Kemudian, tetua adat memimpin doa sebagai tanda dimulainya festival, dan para tamu menikmati hidangan bersama. Selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah, Tumpeng Sewu juga digelar untuk mempererat tali silaturahmi antar warga.

Ider Bumi Tradisi ini tentu tak terpisahkan dari kehidupan Suku Osing. Ya, tradisi ini sebenarnya telah berusia ribuan tahun dan memiliki kisah serta filosofi yang luar biasa. Nama tradisi ini berasal dari kata "Ider" yang berarti "berkeliling" dan "Bumi" yang dapat diterjemahkan menjadi "bumi". Tentu saja, nama tradisi ini menggambarkan bagaimana ritual ini dilakukan. Ritual Ider Bumi dimulai oleh para tetua desa. Mereka memainkan angklung (alat musik yang terbuat dari bambu) yang kemudian diikuti dengan membawa Barong (sejenis patung untuk melambangkan hal buruk). Barong dibawa ke seluruh desa (bumi) dan orang-orang yang membawanya menyanyikan lagu-lagu Jawa. Isi lagu-lagu tersebut adalah tentang doa-doa kepada Tuhan dan leluhur agar hal-hal buruk dan bencana tidak datang.

Ngopi Sepuluh Ewu Ngopi Sepuluh Ewu sebenarnya mirip dengan Tumpeng Sewu. Namun, alih-alih berpesta tumpeng (nasi kuning), orang-orang menikmati kopi bersama. Sesuai namanya, Ngopi Sepuluh Ewu dapat diterjemahkan menjadi "menikmati sepuluh ribu cangkir kopi" dan secara harfiah berarti berpesta kopi. Saat festival ini diadakan, rumah-rumah di sepanjang jalan utama Desa Adat Kemiren menyajikan kopi yang dapat dinikmati pengunjung secara gratis. Selain kopi, ada juga beberapa camilan tradisional yang disajikan. Sekali lagi, gratis. Jika Anda seorang pengunjung, Anda dapat memilih rumah mana saja untuk menikmati kopi dan camilan tersebut. Anda akan dilayani oleh pemilik rumah. Menurut masyarakat yang tinggal di Kemiren, tradisi ini melambangkan keramahtamahan masyarakat Osing dan pada saat yang sama, hal itu juga dilakukan untuk mempromosikan kehebatan kopi dari Kemiren dan dari Banyuwangi.
