Fakta Unik Banyuwangi: Korban Isu Agama dan Multikultur Bertransformasi Menjadi Daerah dan Masyarakat yang Sangat Toleran.
Berbicara tentang isu multikultural, sejujurnya, Indonesia sebenarnya adalah negara yang cukup berisiko. Mengingat betapa beragamnya budaya, etnis, dan bahasa yang membentuk Indonesia secara keseluruhan, negara ini sangat rentan untuk dihancurkan oleh rakyatnya sendiri karena perbedaan-perbedaan yang ada. Meskipun demikian, Indonesia masih bertahan hingga kini. Lebih baik lagi, banyak negara menghormati Indonesia atas keberagamannya namun tetap bersatu. Namun, negara ini tidak sepenuhnya bebas dari isu ras dan multikultural. Misalnya, warga yang tinggal di Banyuwangi mungkin masih ingat peristiwa yang terjadi pada tahun 1998.

Sejarah “Kelam” yang Mengubah Banyuwangi Selamanya
Saat itu, terjadi pembantaian yang berkaitan dengan isu "Ninja". Nah, kita tidak sedang membicarakan Ninja Jepang di sini. Dalam insiden yang terjadi di Banyuwangi, Ninja merujuk pada orang-orang yang mengenakan pakaian serba hitam dan diyakini sebagai pelaku ilmu hitam. Saat mereka datang, beberapa orang terbunuh tanpa mereka sadari. Akibatnya, Banyuwangi dan sekitarnya panik. Mereka mulai memburu orang-orang yang dituduh sebagai ninja. Dan begitulah pembantaian dimulai. Total korban tewas mencapai 115 orang dan hampir semuanya diklaim sebagai ninja, meskipun berdasarkan penyelidikan, tidak pernah terbukti bahwa mereka benar-benar ninja. Untungnya, penyelidikan kasus ini berhasil meredam amarah masyarakat Banyuwangi terhadap para ninja dan keluarganya. Orang-orang yang terlibat dalam pembantaian tersebut telah diproses secara hukum dan nama keluarga para ninja pun dibersihkan.
.jpg)
Kini, 20 tahun setelah kejadian itu, masyarakat di Banyuwangi telah belajar dari kesalahan mereka. Meskipun tidak ada cara yang jelas untuk menyelesaikannya, komitmen masyarakat di Banyuwangi untuk tetap bersatu apa pun yang terjadi sangat kuat. Sejujurnya, kejadian itu, memperkuat fakta bahwa isu multikultural, agama, dan etnis di Banyuwangi tidak akan membuat masyarakat terpicu untuk menghindari kejadian seperti itu terulang kembali. Kondisi seperti itu sebenarnya sangat mengagumkan mengingat bagaimana masyarakat di Banyuwangi terdiri dari berbagai etnis. Ada Jawa, Madura, Bugis, Tionghoa, Arab, dan beberapa etnis lainnya. Seolah belum cukup, Banyuwangi juga terkenal sebagai daerah di Indonesia yang dapat menunjukkan bagaimana agama dapat hidup berdampingan satu sama lain tanpa masalah. Sebagai informasi, budaya Banyuwangi sangat dipengaruhi oleh budaya Islam dan Hindu.
Bukti Bagaimana Keberagaman di Banyuwangi Membuatnya Lebih Kaya dan Unik
Sebagai contoh nyata bagaimana akulturasi budaya dapat terjadi dengan sempurna di Banyuwangi, hal ini dapat dilihat dari pertunjukan Janger yang diadakan di Banyuwangi. Beberapa dari Anda mungkin tahu bahwa Janger berasal dari Bali (yang dikenal dengan budaya Hindu-nya). Namun, ketika diadakan di Banyuwangi, Anda dapat melihat dengan jelas bahwa pertunjukan ini telah bertransformasi. Transformasi ini terjadi karena perpaduan antara produk multikultural dan multibahasa. Di dalam nilai-nilai Hindu yang ditampilkan dalam Janger, Anda juga dapat melihat nuansa Islam serta nuansa Jawa. Dan Janger hanyalah salah satu dari banyak bukti yang menunjukkan betapa toleransi sangat dihormati di Banyuwangi. Orang Tionghoa yang tinggal di Banyuwangi dapat mengadakan upacara dan festival mereka dengan bebas. Hal yang sama juga terjadi pada komunitas Arab di Banyuwangi. Keunikan tersebut tidak lagi menjadi ancaman bagi persatuan di Banyuwangi. Sebaliknya, hal ini menjadikan Banyuwangi sebagai daerah yang kaya akan budaya. Sebagai imbalannya, dengan akulturasi budaya yang berjalan sempurna, Banyuwangi menarik lebih banyak wisatawan untuk datang ke daerah ini. Saat ini, Banyuwangi bahkan setara dengan Bali sebagai salah satu tujuan wisata paling terkenal di Indonesia.