Anda mungkin pernah mendengar beberapa upacara budaya dan tradisi yang berasal dari Banyuwangi. Di antaranya, apakah Tari Gandrung familiar bagi Anda? Ya, tarian ini merupakan bagian dari kesenian tradisional Banyuwangi dan masih dipentaskan hingga kini sebagai bukti betapa masyarakat Banyuwangi sangat menjunjung tinggi tradisi dan budaya mereka. Tarian ini sendiri cukup unik mengingat sejarahnya dan juga bagaimana ia dipentaskan hingga kini. Baiklah, mari kita mengenal Tari Gandrung lebih jauh.

Sejarah Tari Gandrung
Nama tarian ini sebenarnya berasal dari bahasa Jawa. "Gandrung" dapat diterjemahkan menjadi cinta atau pesona. Tari Gandrung dilakukan oleh orang-orang di Banyuwangi sebagai representasi bagaimana mereka terpesona oleh Dewi Sri. Menurut penduduk asli di Banyuwangi, Dewi Sri memiliki tugas untuk menangani membawa kesejahteraan bagi rakyat. Dan karena kebanyakan orang di Banyuwangi di masa lalu adalah petani yang bekerja di dunia pertanian, mereka benar-benar percaya bahwa mereka perlu menghormati dewi agar mereka dapat memperoleh panen yang baik. Biasanya, tarian ini diadakan setelah musim panen terutama jika para petani memiliki panen yang melimpah. Selain menunjukkan rasa hormat, tarian ini juga dilakukan untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada sang dewi.

Bagaimana Tarian Dilakukan
Ketika kita berbicara tentang bagaimana Tari Gandrung dipentaskan, kita perlu menelusuri kembali bagaimana tarian itu dilakukan selama era Majapahit. Sebagai informasi, Majapahit adalah nama sebuah Kerajaan besar di zaman Jawa kuno dan Blambangan (sekarang dikenal sebagai Banyuwangi) adalah bagian dari kerajaan itu. Selama era Majapahit, ada tarian yang sering dilakukan di istana dan penarinya disebut "Juru Angin" (diterjemahkan menjadi "Sang Penguasa Angin" atau "Pengendali Angin"). Karakter Juru Angin dilakukan oleh seorang wanita yang menari dan bernyanyi pada saat yang sama dengan cara yang menarik. Tepat di belakang Juru Angin, ada seorang pria tua bernama "Buyut" yang berperan sebagai "Punokawan" (pengawal dan pelawak) untuk Juru Angin. Jenis tarian ini diyakini sebagai prototipe untuk Tari Gandrung seperti yang kita kenal sekarang. Jika Anda melihat Tari Gandrung dipentaskan hari ini, Anda dapat melihat bagaimana para penari diikuti oleh beberapa pria yang memainkan kluncing (sejenis alat musik tradisional). Di tengah-tengah tarian, para pria itu kerap melontarkan lelucon-lelucon yang berhubungan dengan tarian tersebut.

Tari Gandrung Masa Kini
Sungguh menakjubkan mengetahui bagaimana tarian ini masih bertahan hingga kini mengingat asalnya dari zaman dahulu. Banyak orang masih aktif menari. Meskipun tidak seintens dulu, menyaksikan Tari Gandrung tidak terlalu sulit, terutama jika Anda mengunjungi desa-desa di Banyuwangi. Ada juga beberapa penyesuaian yang dilakukan pada tarian ini. Jika dulu tarian ini dilakukan untuk merayakan panen yang melimpah, kini tarian ini dapat dipentaskan kapan saja. Bahkan, tarian ini juga menjadi salah satu objek wisata di Banyuwangi. Namun, jika Anda ingin menonton tarian ini, Anda harus memeriksa jadwal pertunjukannya.